jump to navigation

Angka Kemiskinan November 27, 2007

Posted by Baihaqi in General, Life.
trackback

Sering saya baca dari berbagai media, setiap kali pemerintah (via BPS) merilis angka kemiskinan selalu banyak pihak yang meragukannya. Banyak yang berargumen bahwa jumlah rakyat miskin bertambah dengan berbagai argumen. Saya terus bertanya dalam hati, apa iya kemiskinan telah berhasil dikurangi oleh pemerintah?

Kalau BPS dan para pengamat & ekonom menggunakan parameter-parameter dalam mendefinisikan kemiskinan, saya mungkin akan menggunakan sudut pandang yang lain untuk melihat bertambah atau berkurangnya kemiskinan tersebut. Argumen saya, ya betul, kemiskinan telah meningkat dengan tajam, terutama sejak reformasi!

Saya melihatnya semakin banyaknya prilaku yang mencerminkan kemiskinan diantara para elit kita. Bagaimana perilaku “miskin” itu? Menurut saya, adalah mereka yang selalu merasa kurang dalam hidupnya. Coba kita amati, betapa banyak orang yang selalu merasa kurang, kurang dan kurang yang cenderung ke sifat yang “Greedy”.

Sangat jelas bagi kita diantara para elit, betapa banyak yang merasa gaji nya kurang terus, padahal gajinya telah berkali lipat dari gaji seorang professor (yang PNS) sekalipun. Dengan gaji yang berlimpah, rasa miskin masih juga belum hilang. Rumah dinas, kendaraan dinas pun minta. Rumah dinaspun masih belum cukup, fasilitas dan furniture didalam rumahpun minta disediakan dan inginnya baru. Bahkan kalau perlu, mungkin mereka akan meminta seluruh energi yang dibutuhkan untuk bernafas dan menggerakkan badannya pun kalau bisa dikuantifikasi dengan biaya. Merekapun taku tidak dapat hidup layak setelah masa jabatan berakhir, hingga uang pensiun pun diperlukan padahal kerja cuma 5 tahun saja.

Kemiskinan memang harus kita berantas, sama derajatnya dengan pentingnya memberantas kejahatan dan kemungkaran. Namun itu saja belum cukup. Masing-masing dari kita juga harus mampu memberantas sifat dan prilaku miskin dalam jiwa kita. Sifat-sifat inferior yang membelenggu gerak, langkah dan berpikir kita. Mari kita tumbuhkan dalam diri kita sifat “kaya” yang positif. Sifat yang selalu merasa diri “mampu” dan “punya” akan menjadikan kita selalu ingin memberi dan membantu orang lain. Tidak ada lagi istilah “saya akan memberi nanti jika saya mampu”.  Sifat kaya membuat kita selalu menegakkan kepala menatap masa depan dan segala tantangan kedepan.

Sebagai bangsa, sifat kaya akan menjadikan kita tidak malu memakai produk dan budaya bangsa kita sendiri. Kita tidak malu dan inferior dikancah percaturan bangsa-bangsa international.

Comments»

1. wanul - March 15, 2009

slm.saya sangat sepakat dengan saudara,namun disisi lain harus di pahami bahwa miskin yang dimaksud adalah kemiskinan secara ekonomi bukan miskin secara perasaan atau berbicara tentang sifat.seperti defenisi anda tentang kemiskinan bahwa ‘Mereka yang selalu MERASA kurang dalam hidupnya,saya kira kita mungkin semua sepakat bahwa kebutuhan manusia ada 2:kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder,lalu apakah orang yang selalu merasa kurang itu masuk dalam kategori usaha pemenuhan kebutuhan primer atau sekunder?mungkin saudara bisa memperjelasnya kembali…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: