jump to navigation

Tukang Sayur & Bullwhip Effect July 21, 2006

Posted by Baihaqi in Management, Technology.
trackback

Sekarang ini, hand phone/mobile phone (HP) adalah bagian dari kebutuhan. Hebat sekali perkembangan dari gadget yang satu ini. Diawal-awal kemunculannya, mempunyai HP adalah suatu prestise. Harganya mahal dan hanya orang-orang berduit yang mempunyai dan memakainya. Sekarang, hampir semua lapisan masyarakat punya. Mulai dari pejabat, sampai tukang ojek bahkan tukang sayur pun punya. Apalagi anak sekolahan. Gaya hidup? Bisa jadi. Yang jelas sekarang kita seperti merasa disengage, terpisah, terkucilkan kalau sehari saja tanpa gadget ini. Ya sekarang semua butuh konektifitas.

Hal yang menarik yang akan dibahas disini adalah fenomena pemakaian HP oleh tukang sayur, seperti yang ditulis oleh bapak Windede. Dengan HP, sekarang ini ibu-ibu tinggal mengirim pesan singkat (SMS) ke penjual sayur langganannya malam hari atau sehari sebelumnya. Sehingga tidak ada lagi ibu-ibu yang di ujung gang tidak kebagian sayur ataupun lauk favoritnya. Si penjual sayurpun sekarang membawa barang dagangan sesuai pesanan ibu-ibu langgangannya.

Si tukang sayur telah mentransformasi cara bisnisnya dari “bring to stock” ke “bring to order”. Sebelum dia memanfaatkan SMS, dia harus belanja untuk memenuhi stock yang harus dibawa keliling komplek perumahan. Tentu dia melakukan “forecast” apa dan berapa yang harus dibeli dipasar untuk kemudian dibawa ke ibu-ibu langganannya. Dengan metode ini, sudah pasti ada “forecast error” yang berakibat tidak hanya pada dia tapi juga pelanggannya. Dia bisa over stock karena barang yang dia bawa belum tentu diingini untuk dimasak oleh ibu-ibu hari itu. Sebaliknya ibu-ibu bisa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan SMS, si tukang sayur sekarang hanya membawa barang sesuai pesanan. Over stock-pun bisa diminimalisir. Service level-nya menjadi meningkat. Ibu-ibu yang diujung komplek sekarang tidak perlu khawatir kehabisan stock. Jadi kedua belah pihak diuntungkan. Bahkan bukan tidak mungkin, dengan sedikit kreativitas, si tukang sayur bisa memberikan harga yang lebih miring buat pelanggannya.

Inilah salah satu contoh nyata peranan informasi dalam “Supply Chain Management”. Apa yang digambarkan oleh Windede, hal yang sederhana dan menggelitik, namun telah menjadi diskusi penting dalam dua dekade terakhir. Hau Lee dari Stanford University menjelaskan secara matematis bagaimana kekurangan informasi bisa menimbulkan kekacauan di rantai supply. Mulai dari supplier, manufacturer, distributors, wholesaler, retailer dan sudah barang tentu konsumen yang akan menanggung akibatnya dalam bentuk biaya tinggi ataupun tidak tersedianya barang. Hal ini diamati pertama kali ketika muncul fenomena yang sangat menarik pada produk popok bayi-nya P&G (Procter & Gambel). Konsumsi produk ini di level konsumen akhir (para bayi) sangatlah stabil dengan permintaan yang datar-datar saja tanpa lonjakan berarti. Anehnya ketika pola permintaan ini ditarik mundur sampai ke level pabrik, maka nampak sekali terjadi lonjakan yang sangat tajam, dan lonjakan tersebut semakin ramai ketika sampai ke level paling jauh dari konsumen akhir. Fenomena ini lazim disebut dengan “Bullwhip Effect”. Yang kalau diartikan secara sederhana adalah suatu fenomena dimana satu lonjakan kecil di level konsumen akan mengakibatkan lonjakan yang sangat tajam di level yang jauh dari konsumen.

Apa akibat dari lonjakan tersebut? Banyak sekali, diantarnya berlebihnya stock persediaan, karena permintaan sebenarnya jauh lebih kecil, kacaunya jadwal produksi, tidak terutilisasinya fasilitas produksi secara optimal dll.

 

Kembali ke tukang sayur tadi, andai saja sms nya bisa diteruskan ke tengkulak dipasar, terus ke pemasok dan seterusnya, bisa jadi pasar induk tidak kumuh dan meluber seperti di keputran Surabaya. Para tengkulak dan bakul di pasarpun perannya dalam rantai perdagangan sayur bisa ditingkatkan, dari sekedar menerima dari pemasok terus meneruskannya ke tukang sayur, mereka bisa memberi value ke produk dengan mem-packaging sesuai dengan pesanan.

Comments»

1. windede - July 25, 2006

mau order sayur apa, om…??

2. -tikabanget- - August 3, 2006

keren ya sistem niaga di penjual level pasar?
hehe…
mereka lebih bisa bertahan di krisis daripada bank bank yang merger sana sini.. :p

*lagi sok tau nih..*

3. paman tyo - August 4, 2006

suplai berlebihan. ke mana barang bekas itu nantinya kalo hp baru semakin murah, bahkan pemulung sudah punya?

Jangan kuatir paman, ada closed-loop supply chain

— bhq

4. adhit - September 9, 2006

akhirnya gw ngerti apa itu bullwhip effect … Thanks

5. laila - January 26, 2008

closed_loop nya gmn???

6. wawan - November 1, 2008

thank’s bwt gambarannya

7. optika rizqi - October 24, 2009

Sayurnya dikasih bar code aj omm..
begitu terjual ke ibu2..
langsung terkirim informasi ke Juragan sayur bahwa sayurnya telah terjual dan harus mencari stock baru lg.. hee..

8. Fitria - December 14, 2010

nice posting n nice info.. izin share ya.. mw buat tugas kampus nii.. =)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: