jump to navigation

Pilih yang mana: Six Sigma, Lean, TQM, ISO? May 15, 2006

Posted by Baihaqi in Management.
trackback

Kalau kita baca buku atau artikel manajemen, istilah-istilah diatas bukanlah barang baru. Management Fads seperti diatas bahkan menjadi semacam pemanis konsep-konsep yang ditawarkan baik di training-training singkat maupun oleh para konsultan manajemen. Apakah penggunaanya hanya ditujukan supaya tidak terlihat ketinggalan jaman? Entahlah, yang jelas saya tidak akan membahas apakah training-training itu benar-benar menawarkan konsep baru atau hanya membungkusnya dengan bungkus yang baru.

Satu hal yang sering menjadi pertanyaan bagi saya sendiri adalah konsep mana sih yang paling cocok atau bahkan cespleng. Apakah konsep-konsep tadi harus diterapkan semua atau berurutan. Kalau berurutuan mana dulu yang mau diterapkan? TQM atau total quality managemen yang beredar di tahun 80-an menawarkan konsep peningkatan qualitas proses yang ujungnya meningkatkan kualitas produk. ISO dengan banyak varian-nya banyak dipromosikan sebagai standar untuk manajemen mutu baik perusahaan manufactur maupun jasa. Lean menekankan pada minimasi waste yang dapat berupa non value added processes/activitie, pemborosan material dan waktu, berlebihnya stok bahan baku maupun bahan jadi. Six sigma yang diperkenalkan oleh Motorola berupaya untuk menuju near perfection atau murni sempurna yang dijabarkan upaya-upaya untuk mencapai 3.4 DPMO (deffects per million opportunities) atau 99.99966% produk/proses tidak cacat.

Sekilas nampak kalau masing-masing konsep mempunyai kesamaan yaitu mencapai kualitas produk maupun jasa yang akan dinikmati oleh konsumen. Penerapan konsep-konsep tersebut diatas secara serampangan sudah barang tentu akan hanya menghasilkan pemborosan baik itu dari sisi waktu dan tenaga yang telah dituangkan untuk implementasi maupun biaya yang keluar melalui training dan bahkan jasa konsultan. Apalagi dengan begitu saja ke menyerahkan tanggung jawab ke konsultan, tujuan inti dari konsep-konsep tersebut tidak akan tercapai. Bahkan mungkin hanya akan menambah beban kerja karyawan dengan adanya tambahan pencatatan-pencatatan yang belum tentu dimengerti dan dipakai. 

Kalau kita mengunjungi perusahaan-perusahaan di Indonesia, maka akan kita jumpai banyak sertifikat yang terpampang di dinding ruang reception ataupun ruang-ruang manager terutama sertifikat ISO dengan berbagai penomorannya. Apakah itu semua merefleksikan kualitas produk ataupun proses diperusahaan tersebut? ah belum tentu. Coba kita berkeliling ke seluruh area perusahaan, maka akan banyak dijumpai sampah yang berserakan, tumpukan work-in-process inventory, maupun scrap-scrap yang berceceran. Apalagi kalau kita melihat bagaimana penanganan limbahnya. Jadi, nampaknya banyak perusahaan yang hanya pinter mendapatkan sertifikasi layaknya seoarang pelajar yang harus lulus ujian. Ketika sebelum ujian berlangsung tentu proses belajar begitu gigihnya, setelah sertifikat didapat, ah itu lain lagi. 

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri presentasi oleh Terry Brookshaw dari Dow Chemical Australia. Menarik sekali apa yang dia petik dari pengalaman dia di perusahaannya, bahwa yang terpenting adalah bagaimana menciptakan sustainable performance improvement. Dia mengungkapkan bahwa simply mengimplemntasikan jargon-jargon managemen terkini hanya akan membingungkan semua orang di perusahaan. Yang penting menurut dia adalah bahwa usaha-usaha performance improvement tersebut haruslah didasarkan pada perjalanan perusahaan tersebut dalam melakukan usaha-usaha peningkatan kualitas. Pesan yang mau disampaikan disini adalah cermati budaya perusahaan dan bahwa manajemen perubahan harus menjadi issue central dalam implementasi. Sehingga kata kunci dari sustainable performance improvement adalah people, leadership and change management.

Comments»

1. dandy - July 21, 2006

Memang banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang begitu mendewakan performance culture, tanpa memberikan peluang sedikit pun untuk suatu kegagalan. Six-sigma dengan near zero defect pun semakin mengukuhkan itu. Hampir tiada peluang untuk Budaya pembelajaran…

you are right mate. Thank you.

2. Agus Setiyawan Mas Moelyono - June 5, 2007

Yang pertama adalah hilangkan budaya INSTANT, budayakan TEORI PANEN.
Yang kedua gunakan EVOLUSI yang dipercepat dengan mengacu budaya iklim perusahaan tersebut untuk meng-create-nya.
Yang ketiga baru adopsi teori teori yang ada sekarang.

Dan yang paling utama dan terakhir Komitmen – Konsekuen – Punishment + Reward.

3. Suwanda - June 13, 2007

Mungkinkah six sigma dapat dapat diimplementasikan di perguruan tinggi.

Kalau ya, berapa jasa konsultasi dan training six sigma.

4. baihaqi - June 13, 2007

#Suwanda
Sangat mungkin. Mengenai jasa konsultasi, silahkan kirim email.

5. Rizal - June 19, 2007

saya setuju sekali .. yang penting people, processes dan performance sudah dilakukan dengan baik, benar dan berkesinambungan…saya rasa mengadopsi quality system management manapun tidak akan masalah…saya lbh senang dgn sistem manajemen Lean Six Sigma yg merupakan perpaduan sistem manajemen TOYOTA dan MOTOROLA .. saya yakin sistem itu bisa diterapkan dibidang apa saja…

6. MRG - June 30, 2007

Semua metode yang ada sebenarnya menuju pada satu goal yaitu peningkatan kualitas, baik dari segi output maupun kinerja karyawan., tapi yang menjadi masalah adalah komitment yang kita punya untuk menjalankan proses tersebut secara berkelanjutan karena sistem tersebut tidak akan langsung memberikan hasil yang cepat………….Jadi kesabaran mutlak diperlukan untuk menuju hasil yang diharapkan!!!!!!!!!!!!!!!

7. ucok - July 10, 2007

Keberhasilan yang dicapai motorola dan toyota sebagai contoh, bukanlah suatu pencapaian seketika, melainkan suatu proses panjang yang disertai komitmen dan konsistensi akan mutu secara absolut. Komitmen dan konsistensi tersebut kemudian mampu membangun suatu strong culture yang berhasil menggenerate keberhasilan yang tampak saat ini. Konsep yang kemudian mengemuka sebagai SS, TPS, JIT, dll. adalah konsep yang sesungguhnya tidak mudah ditiru dan hampir mustahil diadopsi secara instant. Filofosi kedua perusahaan tersebut jauh lebih penting untuk ditiru dibanding dengan konsep yang saat ini banyak menjadi lapangan kerja para konsultan manajemen. Strong culture untuk fokus pada mutu adalah nyawa keberhasilan kedua perusahaan tersebut, dan nyawa kesuksesan perusahaan terkemuka lainnya. Suatu kekeliruan bila kemudian keberhasilan meraih sertifikat iso 9001, lolos scoring malcolm baldrige, dan atau meraih prize lainnya dipersepsikan sebagai suatu simbol fokus mutu. Prize sesungguhnya adalah berasal dari customer, bukan dari lembaga sertifikasi/ prize apapun. ‘Alphabetical soup’ yang ada saat ini, cukuplah menjadi suatu referensi terpenting untuk membantu perusahaan dalam belajar membangun suatu sistem yang dapat membantu membangun budaya mutu yang sesungguhnya. Setelah mampu mencapai suatu fokus mutu yang konsisten, prize apapun akan mudah didapat. Memprihatinkan memang, banyak perusahaan kita yang saat ini justru fokus prize dan sertifikasi, bukan fokus pada quality. Ya….. ini Indonesia jack!

8. prima - July 13, 2007

“Sehingga kata kunci dari sustainable performance improvement adalah people, leadership and change management”

Exactly. Tidak semudah itu menyerap, meniru, dan melaksanakan sistem2 manajemen yang digunakan “Giant” companies. Toh, TPS di Toyota bukan merupakan hal yg sulit. krn itu sudah culture yg dimiliki karyawannya. sekedar typical karyawan Jepang, yg dibaca, diadopt, dan dimanfaatkan oleh company untuk di-sistem-kan. Masukkan ke Indonesia : TMMIN berusaha sekuat tenaga membawa supplier2nya utk menerapkan TPS. fact? ga segampang itu. mereka harus rutin mengadakan program2 improvement dan mengontrol secara periodik. karena culture karyawan indonesia yg mahasiswa sekali : rajin belajar sebelum ujian. sertifikat ditangan, see you next year wahai TMMIN!
Fokuskan pada culture people, cari titik mana yg bisa dijadikan motivasi mereka untuk memperbaiki diri demi company (ini yg berat. sulit mencari orang yg ingin berdarah2 demi kebaikan company). Lead by example, then manage them..
tapi yg utama : ‘mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang”
sungguh ga mudah…

9. Kaszief Kaslan - August 1, 2007

Saya seutju dengan “sustainable performance improvement” yang nantinya juga menjadi ISO 9004:2008. banyak sekali improvement system yang ada,kalau saya melihatnya di Indonesia banyak sekali perusahaan yang mempunyai sertifikat ISO 9001 yang sebagian besar hanya menjadi wall decoration saja.Sebenarnya sebagai dasar dapat dijadikan awal dari semua improvement yang ada.Seperti kegagalan 3M dengan SSnya yang dibawa oleh bossnya dari GE,mana yang penting efficiency atau inovasi ?
Pengalaman dalam memberikan saran pada perusahaan di Indonesia lebih banyak karena SDMnya yang akan menjadikan budaya perusahaan menjadi tidak menentu.
SS sangat mungkin diterapkan di Perguruan Tinggi,dengan pertama menggunakan IWA 2 (ISO) sebagai dasar menagementnya.Salam Kaslan

10. baihaqi - August 1, 2007

#Kaszief Kaslan
Pak Kaslan, terima kasih telah mampir dan sudi berkomentar disini.

11. Harun Gumilar - October 1, 2007

Terjemahannya yang tepat untuk Lean Manufacturing apa ya? Manufaktur Ramping?

12. erna - November 8, 2007

Perubahan di perusahaan itu membutuhkan 3C (Communication, Culture, dan Commitment). Jika salah satu dr hal ini bermasalah sistem manajemen apapun yg coba diterapkan pastinya sulit untuk berkembang (jalan ditempat).

13. bhq - November 13, 2007

#Harun
Saya rasa terjemahan tidak penting. Itu hanya kulitnya saja. Yang penting penerapannya.

14. Koko - November 19, 2007

Saya sebetulnya malu, karena konsep-konsep Six_Sigma sendiri mengambil dari konsep-konsep yang ada di Al-Qur’an, mengapa bagi orang-orang yang beragama Islam tidak sadar betul, bahwa Al-Qur’an adalah sumber ilmu, selalu diterjemahkan secara ilmiah oleh orang-orang barat. Apakah orang-orang Islam selama ini pada tidur?

15. nico kurnianto - December 19, 2007

sebetulnya ketiganya dapat diintegrasikan ataupun digunakan untuk kondisi perusahaan yang berbeda, tapi saya rasa untuk perusahaan di Indonesia perlu memodifikasi semua itu agar cocok untuk lingkungan usaha di Indonesia. Jadi, semua itu tergantung dari permasalahan yang ada, kondisi perusahaan, dan bagaimana perusahaan tersebut beroperasi.

Saya bingung tentang penerapan six sigma di perusahaan jasa, itu gimana ya!? kirimi aku e-mail ya!

16. Arif Nugroho - January 9, 2008

Menurut saya Penerapan six sigma lebih fokus menitik beratkan kepada bagaimana perusahaan dapat memperbaiki proses produksinya dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat pada sistem pengawasan dan perbaikan pada bidang produksi. Oleh karena itu pendekatan Six Sigma sangat penting untuk meminimalisir kesalahan proses dengan menggunakan pendekatan statistik.
Saya juga belum memahami begitu jauh mengenai Six Sigma, oleh karena itu jika memungkinkan tolong kirim melalui alamat email saya mengenai Six Sigma atau Lean, atau TQM.
Terima Kasih

17. Afrizal - January 14, 2008

ada yang bisa bantu EO yang mengadakan trining Six Sigma dalam waktu dekat ini di Jakarta ? terim a kasih – Afrizal

18. rochester - February 12, 2008

Kepada Yth,
Bapak/Ibu Praktisi Quality
Di tempat,

Dengan hormat,

Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM PII) Bekerjasama Vincent Foundation akan menyelenggarakan Program Workshop “Lean Six Sigma for Enterprise“,, kegiatan ini bertujuan untuk:
1. Memahami konsep Total Quality Management.
2. Mengetahui dan memahami konsep Lean Six Sigma dan teknik aplikasinya dalam operasional di perusahaan.
3. Meningkatkan Profitabilitas dan Produktivitas Organisasi.
4. Memperbaiki Proses Bisnis dengan menggunakan Value Stream Mapping Process secara tepat dalam pelaksanaan kegiatan Operasional sehingga diharapkan akan membantu manajemen perusahaan dalam pengembangan corporate governance dan melindungi kepentingan stakeholdernya.

Program Workshop Lean Six Sigma for Enterprise akan kami selenggarakan pada:

Hari/Tanggal : 24-26 Maret 2008
Pukul : 09.00 – 17.00 WIB
Tempat : Hotel Kedaton Jl. Suniaraja No. 14 Bandung
Jawa Barat Indonesia 40111

Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kehadirannya kami ucapkan terima kasih.

Forum Anggota Muda
Persatuan Insinyur Indonesia

Ir. N.Rochester S.
Ketua Panitia
021-83700644

19. Aang JS - February 27, 2008

Lean, Six sigma, Lean Sigma, Fool proof atau apaun namanya untuk metode improvement saat ini adalah HANYA SEBUAH TOOL/ALAT untuk mendongkrak keuntungan secara esensial suatu perusahaan.

Logikanya sebuah TOOL sangatlah situasional dan terikat terhadap faktor didalam perusahaan itu sendiri. Contoh, sebuah pisau pun dalam kondisi tertentu (kepepet) dapat berfungsi juga sebagai alat substitusi obeng. dengan ujung mata pisau kita bisa memutar kepala baut seperti layaknya obeng. dan hasilnya pun sama, baut pun dapat di buka.

Begitu juga TOOL Improvement yang ada, bagaimana bisnis perusahaan anda, bagaimana pola produksi anda, bagaimana order yang masuk ke perusahaan anda, itu semua menuntut kejelian ekstra utk menentukan alat improvement apa yang gunakan. Karena salah2 alat tersebut justru menggrogoti perusahaan anda. diantaranya : Investasi terbuang dgn hasil yg tidk terlalu signifikan, tidak mendapat dukungan penuh dari karyawan, Improvement menuntut kovensasi yg tinggi dari perusahaan, dan sebagainya masih banyak lagi….

LEAN atau TPS apabila ditelaah memang sangat baik, akan tetapi pemahaman yg instan malah akan membawa perusahaan menjadi kacau. Jangan jalankan LEAN (TPS) kalau jiwa anda tidak bisa memahami TOYOTA. Six Sigma untuk implement nya membutuhkan banyak waktu dan lambat, menuntut investasi besar, mungkin hanya cocok utk jenis bisnis mass production dgn pola continuos process. bagi anda PT kecil dengan mengandalkan Job Order dengan PO yang tidak terlalu besar, silahkan jalankan apabila siap mebuat Boss anda menjadi miskin….

Jadi hemat saya PELAJARILAH DAN PAHAMI semua TOOLS improvement terutama dikalangan engineer, manager, bahkan top management karena hal ini sangat-sangat membantu ketika prusahaan mendapatkan masalah atau ingin profit increase. Salah satu saja tidak memahami TOOLS maka dijamin akan kacau terutama Top management. Bagaimana jajaran pimpinan perusahaan akan investasi kalau mereka sendiri tidak paham.

Bagi saya masih ada lagi aspek2 yang sangat penting diketahui dan dipahami dalam melakukan improvement di perusahaan. Hebatnya aspek2 itu justru tidak ada dalam teory IMPROVEMENT TOOLS yang saya sebutkan tadi diatas, dan anehnya lagi tidak semua kalangan manager dapat menangani hal ini. DAN JUSTRU HAL INILAH YG MENJADI KUNCI KEBERHASILAN…”ASPEK SOSIAL BUDAYA DAN KESEJAHTERAAN..” ANDA TENTU TIDAK INGIN KERJA BAKTI DI PERUSAHAAN TANPA IMBALAN BUKAN..???

Boleh percaya atau tidak… silahkan anda kembali bekerja dan apabila hal itu tidak ada masalah krn anda berpikir hanya di dlm perushaan anda saja… Maka dapat dipastikan anda bukanlah seorang MANAGER dan INDUSTRIAL ENGINEER..

20. edenia - April 7, 2008

help me…..

six sigma tu apaan??

trs implementasi untuk sebuah instansi pendidikan tu apa??

bisa untuk apa aja sih???

ada tugas nihhhh

thx

21. baihaqi - April 7, 2008

Edenia,

Krn jawabannya bisa panjang,
saya kasih link ini aja semua berguna:

22. Suwandi - April 8, 2008

Akan ada Six Sigma Leadership Seminar di Four Seasons Hotel tanggal 8 Mei 2008 ini. Pembicaranya James Hildebrand (consultant Motorola University dan George Group) dengan pengalaman di AXA, NewCrest, US Army, dll.

http://www.SixSigmaIndonesia.com

Thanks for this spot, Pak Baihaqi.

23. miranda - April 22, 2008

bukanya Six Sigma, Lean, , ISO itu TQM juga mau komen aja sih??..

24. Muhammad - March 8, 2009

pak baihaqi, saya mau minta saran…..

kebetulan saya mahasiswa teknik industri dan mendapat tugas akhir tentang six sigma/peningkatan kualitas.

saya lagi mencari ide kira-kira apa tema penelitian yang lagi nge-trend dan bagus yang berhubungan dengan six sigma/peningkatan kualitas.

terimakasih atas saran pak baihaqi. Sukses Terus pak!!!

25. Muhamad Sofian - April 27, 2009

peningkatan kualitas dari suatu perusahaan tidak melulu dari metode yang ingin didapatkan melainkan keadaan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan hal ini butuh komitmen baik dari pihak top management hingga low manangement. Akan tetapi hal itu semua kembali dalam visi dan misi yang ditetapkan oleh management dan penerapannya harus memperlibatkan semua stakeholder yang ada demi pencapaian visi yang ditetapkan. Thank you atas informasinya

26. intan - June 5, 2009

pak baihaqi..

saya rencananya ingin mengambil tugas akhir mengenai quality management..

bapak ada jurnal-jurnal yang berhubungan dengan materi2 tersebut??
kalo ada tolong dikirim ke email stillsapipolkadot@yahoo.de

trims.

27. christine - November 8, 2009

pak baihaqi,
perkenalkan saya christine, alumni TI ITS yang dulu sayangnya nggak pernah dapat kelasnya bapak.
dari yang saya tangkap, di artikel ini dikatakan bahwa di sebagian perusahaan hanya mementingkan di atas kertas mereka sudah ISO, padahal dalam kenyataannya, pada prakteknya belum tentu benar-benar melaksanakan.
ingin menambahkan, mungkin dari sisi perusahan memiliki sertifikat ISO berarti menaikkan goodwill. kemungkinan lain, dengan punya sertifikat mereka dapat memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam berbisnis. itu hal nomor satu yang mereka pentingkan. atau mungkin juga sertifikasi tersebut awalnya ‘proyek’ manager A, kemudian ganti kepemimpinan ke B, yang memandang hal itu tidak penting sehingga kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan di atas kertas.
bagaimana pendapat bapak? terima kasih.

28. avicena indraswara - May 24, 2010

as.wr.wb pak baihaqi,
sy tertarik dgn ulasan bpk, sy sdg meneliti efisiensi khususnya waktu di rmh sakit tempat sy bekerja dgn menggunakan “lean management”, yang menurut saya cocok diterapkan disini.
mohon saran pak, kira2 literatur apa dan dimana sy bisa mendapat tambahan informasi mengenai hal tersebut untuk menambah pengetahuan bagi saya setelah ulasan dari bapak baihaqi.

demikian terimakasih banyak.

-avicena-

29. Aep Burhanudin - April 25, 2011

Asw.

Pak Baihaqi, salam kenal untuk Anda. Tulisan Anda cukup menarik.

Mohon saran Bapak, vendor mana di Indonesia yang bapak referensikan dalam mendeliver & mensertifikasi Six Sigma.

Terima kasih bantuannya.

Wass.

30. Baihaqi - May 28, 2011

Teman-teman,

Terima kasih atas komentar dan pertanyaannya. Banyak yang tidak sempat saya balas. Mohon Maaf untuk itu. Untuk korespondensi lebih lanjut, silahkan kirim email ke ibaihaqi[at]gmail.com

31. Berkenalan dengan Six Sigma « Wahyu Alam's - October 6, 2011

[…] Six sigma pernah diperkenalkan oleh Motorola berupaya untuk menuju near perfection atau murni sempurna yang dijabarkan upaya-upaya untuk mencapai 3.4 DPMO (deffects per million opportunities) atau 99.99966% produk/proses tidak cacat. – https://baihaqi.wordpress.com […]

32. TPM - October 10, 2011

Artikel yg menarik, keep posting!

33. hengky - January 16, 2012

Perusahaan dimana sy bekerja sdh mengadopsi semua system yang ada diatas, dan sy mengamati:
1. Dasar pemahaman yg belum detail dan mendasar.
2. terlalu cepat berganti system, dimana system yg satu belum dimengerti konsep dan dirasakan hasilnya secara maks
3. human res. yang tidak memadai.
4. Budaya indonesia dan budaya dimana system itu berasal

NB. jika orang jepang gagal maka mereka malu bahkan sedia utk mundur dari jabatan atau melakukan harakiri.
klo orang kita????? “saling menyalahkan/kambing hitam, tidak mengerti tapi ngeyel, maunya instan.

menurut sy, ciptakan system dan budaya kerja sendiri sesuai dengan perusahaan anda, adopsi system dr luar sangat baik, tp jgn ditelan mentah mentah, kembangkan dan kawinkan dengan budaya dan human yg anda miliki

34. danangwid - October 12, 2013

analisa anda ada yang benar tetapi ada yang perlu dilihat dari sisi yang lain. semua tooling yang anda jelaskan adalah metoda dan membutuhkan banyak hal untuk berhasil diterapkan. Konsep menjadi beraneka ragam juga karena dibentuk dan dirubah dengan banyak masukan ; seperti konsultan, auditor dan banyak lagi. membuat berhasil bukan hal yang mudah. Justru lebih mudah mempelajarinya. itulah konsep alami yang harus kita pahami : bahwa suatu metoda bisa dipelajari tapi bagaimana diterapkan adalah masalah lain. seperti juga koki didapur – tidak semuanya bisa memberikan rasa yang sama meski toh hanya sebatas makanan sederhana seperti nasi goreng.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: